Sunday, March 1, 2015

Sinopsis Novel “RINDU” Karya Darwis Tere Liye



Rindu adalah persembahan Tere Liye di tahun 2014 yang betul-betul dirindukan. Rindu merupakan buku ke-20 karya pengarang produktif tersebut. Semua karya-karyanya memiliki ciri khas dan cita rasa yang berbeda. Namun bagi saya, Rindu adalah karya yang tak pernah terbayangkan.

Saya tidak habis pikir, lagi-lagi Tere Liye menyuguhkan tema yang tidak biasa. Menurut saya, ide penulisan novel Rindu belum pernah ada di dunia perbukuan Indonesia. Sederhana, tidak muluk-muluk, tapi segar. Novel ini tentang perjalanan panjang jamaah haji Indonesia tahun 1938. Tentang kapal uap Blitar Holland. Tentang sejarah nusantara. Dan tentang pertanyaan-pertanyaan seputar masa lalu, kebencian, takdir, cinta, dan kemunafikan.

Ditulis dengan alur maju, memudahkan pembaca mengikuti jalan cerita. Namun di beberapa bagian, penulis menyuguhkan cerita-cerita lain dalam bentuk dialog, yang berkorelasi pada kisah yang tengah disajikan. Membuat pembaca mengenal secara utuh racikan cerita di novel ini, sehingga setting novel yang didominasi aktifitas penumpang di kapal Blitar Holland, tidak terasa membosankan.

Gaya kepenulisan novel Rindu terbilang sederhana. Membumi. Disisipi dialog bahasa Belanda, yang meski tidak disertakan artinya, pembaca terbantu memahami maksud kalimat dengan deskripsi yang ditulis Tere Liye.

“Mag ik uw kaatje, Meneer?” Salah satu kelasi bertanya sopan, persis saat Gurutta menginjak dek kapal, menanyakan tiket dan dokumen perjalanan. (hal. 35)

Novel ini dibuka dengan mukadimah yang unik. Tere Liye menukil fakta sejarah nusantara di tahun 1938. Salah satunya, Indonesia (yang masih bernama Hindia Belanda) mengikuti Piala Dunia di Prancis untuk pertama kalinya. Seterusnya, sosok kapal uap yang akan menjadi saksi seluruh cerita di novel setebal 544 ini mulai digambarkan penulis. Untuk kemudian, Tere Liye menghadirkan satu persatu tokoh-tokoh dalam novel ini.

Konon, novel yang baik adalah yang membuat pembaca jatuh cinta atau simpati terhadap tokoh-tokoh yang diciptakan penulisnya. Di novel Rindu, saya merasakan hal tersebut. Memang tidak pada semua tokoh utama,  bahkan, saya pribadi tidak terlalu jatuh hati dengan tokoh yang pertama kali dimunculkan Tere Liye, yaitu Daeng Andipati. Bukan apa-apa, hanya saja tokoh dengan karakter seperti Daeng Andipati ini sudah “banyak ditemukan”. Seperti yang digambarkaan Tere Liye, Daeng Andipati adalah pedagang muda dari Makassar, kaya raya, pintar dan baik hati (hal.11)

Daeng Andipati adalah penumpang Blitar Holland yang mengikutsertakan istri, kedua anaknya, serta seorang pembantu. Sosoknya berkarismatik, terpandang, digambarkan dekat dengan orang-orang Belanda. Sekilas, kehidupan Daeng Andipati nampak sempurna. Kebahagiaan seolah meliputinya sepanjang waktu. Istri yang cantik dan salehah, dua anak yang periang dan menggemaskan, juga karir bisnis yang menjanjikan. Namun ada satu hal yang tersembunyi di dada Daeng Andipati. Membuat seluruh kehidupan Daeng Andipati seolah tidak berarti. Adalah kebencian Daeng Andipati terhadap ayahnya.

“…Karena jika kau kumpulkan seluruh kebencian itu, kau gabungkan dengan orang-orang yang disakiti ayahku, maka ketahuilah, Gori. Kebencianku pada orang tua itu masih lebih besar. Kebencianku masih lebih besar dibandingkan itu semua!” (hal. 362)

Mencermati hubungan Daeng Andipati dengan ayahnya, kita seolah diajak menoleh kenyataan di sekitar kita. Betapa terkadang kebencian itu bisa lahir dari dua orang yang seharusnya terikat cinta. Ini adalah hal menarik yang diangkat Tere Liye dalam novel Rindu. Kabar baiknya, pertanyaan tentang kebencian itu memiliki jawaban yang mendamaikan. Sehingga siapapun pembaca yang mengalami hal serupa, bisa mengambil sikap terbaik. Seperti biasa, cara Tere Liye menyisipkan pesan-pesan pencerahan selalu sederhana, tidak menggurui. Namun tepat sasaran.

Tokoh lain yang menghiasi perjalanan panjang kapal Blitaar Holland adalah dua kakak beradik, Anna dan Elsa. Dua kanak-kanak ini memberi kesan dan warna tersendiri dalam novel Rindu. Saya membayangkan, novel Rindu ini pasti akan terasa berat tanpa kehadiraan Anna dan Elsa. Sementara Tere Liye, sudah sangat terampil menggambarkan karakter anak-anak dalam novel-novelnya. Saya sungguh jatuh cinta dengan Anna dan Elsa. Polos, periang, dan menggemaskan. Tere Liye memberikan porsi yang banyak untuk cerita mereka. Semakin menegaskan, bahwa kanak-kanak tidak pernah terlepas dari kehidupan kita. Kehadiran mereka adalah penghiburan. Dunia pasti terlihat membosankan tanpa sosok mereka. Ini sekaligus menjadi nilai lebih novel Rindu, ide tentang anak-anak yang menyertai orang dewasa pergi haji hampir tidak pernah disinggung dalam cerita manapun.

Hal baru dari novel Rindu ini adalah kemunculan tokoh ulama. Ini istimewa, karena di novel yang lain, Tere Liye belum pernah mengambil karakter seorang ulama. Yang ada di benak kita bila disebut kata ulama, tentu terbayang sosok manusia dengan seluruh kesempurnaan ilmu dan adab. Begitu juga dengan Ahmad Karaeng, seseorang yang dipanggil Gurutta itu digambarkan sebagai ulama yang sempurna. Berilmu. Beradab. Bahkan empat dari lima pertanyaan besar di novel Rindu terjawab sempurna dari lisannya yang bijak.
Namun Gurutta bukan ulama biasa. Ia ulama bersahaja, yang rendah hati, dicintai banyak orang karena tinggi budinya. Sikapnya terbuka pada siapapun. Mau membaur dengan orang-orang yang jauh kapasitas keilmuannya. Bahkan Gurutta akrab dengan orang-orang Belanda di kapal Blitar Holland, duduk satu meja dengan Chef Lars, berbincang santai dengan Ruben si Boatswain, dan melibatkan diri pada urusan-urusan penting selama di kapal bersama Kapten Phillips. Lain dari itu, saya sangat terkesan dengan hubungan Gurutta dengan Anna dan Elsa. Sesuatu yang jarang kita dapati, ulama besar namun begitu memuliakan anak-anak, begitu menghargai keberadaan mereka. Menyindir kita yang terkadang menganggap anak-anak itu merepotkan, menyebalkan, dan stigma negatif lainnya. Padahal, Rasulullaah sendiri sudah mencontohkan sikap terbaik beliau terhadap anak-anak.

Ada banyak hal menarik pada sosok Ahmad Karaeng. Namun diluar semua kelebihannya, Ahmad Karaeng tetaplah manusia biasa. Dia bahkan menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang begitu dia khawatirkan. Sesuatu yang mengganggu batinnya.

Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaannya sendiri.
Lihatlah ke mari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri. (hal. 316)

Seperti biasa, tema cinta tak akan pernah lepas dari novel dengan genre apapun. Dalam novel Rindu, Tere Liye juga menghadirkan tokoh yang berhasil membuat saya jatuh cinta, sepasang pasutri sepuh dari Semarang. Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet. Diantara ribuan penumpang kapal Blitar Holland, merekalah pasangan paling sepuh. Sekaligus paling romantis.

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu.  Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak-anak kami. Waktu-waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.” (hal. 205)

Tere Liye seakan berpesan kepada pembaca—terutama kawula muda, bahwa contoh konkret cinta sejati adalah pasangan yang sudah berpuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Bukan kawula muda yang bergaul bebas, tanpa komitmen, dan melanggar begitu banyak rambu-rambu agama atas nama cinta. Sayangnya, ada hal yang membuat dada sesak dalam perjalanan cinta mereka. Sesuatu yang kemudian menjadi salah satu pertanyaan besar dalam novel ini.

Tema cinta juga datang dari tokoh pemuda bernama Ambo Uleng. Si kelasi pendiam yang suka berdiam diri menatap jendela bundar di kabin. Meski Tere Liye baru membeberkan dibalik kemisteriusan Ambo Uleng di halaman 483, sebenarnya pembaca sudah bisa menebak apa yang sesungguhnya terjadi dengaan pemuda itu.  
“Aku hanya ingin meninggalkan semuanya, Kapten.” (hal. 33)

Ambo Uleng merupakan tokoh dengan karakter yang juga berhasil membuat saya jatuh hati. Banyak sifat baik Ambo Uleng yang bisa dijadikan teladan. Keinginannya belajar mengaji salah satunya, tidak masalah meski harus belajar dengan Anna, si gadis kecil yang pernah ia tolong dalam sebuah peristiwa besar di Surabaya. Kecerdasan dan kecakapan Ambo uleng menyertai beberapa adegan heroik di novel ini. Namun yang paling berkesan, lima dari empat pertanyaan besar di novel ini—yang datang dari seseorang yang selalu memberikan jawaban, justru lahir dari sosok Ambo Uleng. Pertanyaan yang bukan dari penjelasan lisan atau tulisan, tapi dengan perbuatan tangan. (hal. 540)

Tokoh terakhir dari tokoh-tokoh sentral dalam novel Rindu adalah Bonda Upe. Guru mengaji anak-anak di kapal Blitar Holland ini membuat saya jatuh simpati. Tere Liye menggambarkan suasana batin Bonda Upe dengan sempurna. Siapapun yang membaca, seolah dapat merasakan sesuatu yang terpendam di dada perempuan itu. Sesak, gelisah, pun saat-saat ia menemukan secercah cahaya yang membuatnya bisa memandang hidupnya dengan perasaan lapang. Menariknya, Bonda Upe adalah warga keturunan China dan Muslim. Sesuatu yang mungkin masih menjadi hal yang asing pada saat itu.

“Ma, kalau Bonda Upe itu orang China, kenapa dia Islam?”

“Koh Acan di Kampung Butung juga Islam, apanya yang aneh?” (hal.108)

Dalam perjalanannya ke Tanah Suci, Bonda Upe membawa pertanyaan besar. Berkitan dengan masa lalunya sebagai cabo. Ada pelajaraan penting yang bisa diambil dari kehidupan Bonda Upe. Salah satunya adalah nilai ketulusan seorang Enlai, suami Bonda Upe.

“Dia tulus menyemangatimu, tulus mencintaimu. Padahal, dia tahu persis kau seorang cabo. Sedikit sekali laki-laki yang bisa menyayangi seorang cabo. Tapi Enlai bisa, karena dia menerima kenyataan itu. Dia peluk erat sekali. Dia bahkan tidak menyerah meski kau telah menyerah. Dia bahkan tidak berhenti meski kau telah berhenti. (hal. 312-313)

Bukan hanya berisi tokoh-tokoh yang menarik. Novel Rindu, meski hanyalah potret perjalanan ke Tanah Suci di atas kapal uap milik Belanda, novel ini juga menyajikan beragam konflik yang tidak pernah terduga. Diantaranya tragedi penyerangan kapal oleh bajak laut dari Somalia, kapal yang terancam terkatung-katung di laut lepas, seseorang yang mencoba membunuh Daeng Andipati, serta kasus yang membuat Gurutta dipenjara di sel kapal Blitar Holland.

Tere Liye, dalam novel ini, sekaligus menyinggung beberapa isu, diantaranya seputar toleransi beragama. Dikisahkan dalam perjalanan dari Kolombo menuju Jeddah, para kelasi mengadakan perayaan Natal. Sebagaimana yang terjadi di masyarakat tentang polemik Natal bersama dan mengucapkan selamat Natal. Dalam sebuah dialog antara Daeng Andipati dengan Anna, Tere Liye menegaskan makna toleransi dari sudut pandang yang lain.

“…tanpa menghadiri acara itu, kita tetap menghormati mereka dengan baik, sama seperti Kapten Philips yang sangat menghormati agama kita. Pun tanpa harus mengucapkan selamat, kita tetap bisa saling menghargai. Tanpa perlu mencampur adukkan hal-hal yang sangat prinsipil di dalamnya.” (hal. 499)

Di bagian yang lain, Tere Liye juga mengkritisi tentang kisah-kisah takhayul serta beragam pemberitaan hoax yang berceceran di media-media. Di mana diantara kaum Muslimin menelan mentah-mentah berita seputar bayi lahir dengan Al-Quran kecil, bayi lahir bisa bicara, ada asma Allah di awan, dan lain-lain sehingga mereka lupa bahwa mukjizat paling besar ada di rumah mereka. Diletakkan di lemari, di meja, dibiarkan berdebu tanpa pernah dibaca. (hal. 394)

Keberagaman tema dalam novel Rindu diperkaya dengan sosok dua guru yang hebat dan kreatif. Bapak Mangoenkoesoemo dan Bapak Soerjaningrat, dua guru terbaik dari Surabaya. Saya—yang berprofesi sebagai guru, banyak mendapat inspirasi dari potongan-potongan dalam novel yang mengambarkan kegiataan belajar mengajar anak-anak di kapal Blitar Holland. Saya yakin, pembaca lain yang juga berprofesi guru, akan mendapat kesan serupa.

Saya sempat tertipu mengikuti alur cerita dalam novel ini. Atau mungkin saya yang terlalu berburu-buru mengambil kesimpulan. Adalah adegan di mana ada “sesuatu” yang selalu menguntit Gurutta saat melewati lorong-lorong kapal di malam hari. Tere Liye, meski dengan gaya bahasa simpel, berhasil menciptakan atmosfir “horor”. Berhubung saya tidak suka dengan cerita-cerita makhluk halus dan sebagainya, saya sempat sensi. Protes. Kenapa Tere Liye harus menuliskan adegan horor-horor begini? Setelah tiba di halamaan berikut-berikutnya, saya akhirnya bisa bernafas lega. Alhamdulillah, ekspektasi saya keliru :-)
Novel Rindu tidak hanya bercerita tentang perjalanan panjang ke Tanah Suci. Dengan beragam tragedi, konflik, dan serangkaian peristiwa yang menyertainya. Novel ini semakin berbobot dengan cuplikan sejarah di beberapa daerah yang dijadikan setting. Saya seolah-olah bisa merasakan suasana kota Surabaya zaman lampau, naik trem listriknya. Berjalan-jalan di kota Banten, menyaksikan orang-orang pribumi berbaur dengan orang Belanda. Termasuk merasakan suasana kota Kolombo, berkeliling menaiki kereta sapi.
Sesampai di akhir novel—tiba di bagian prolog, saya anggap sudah tidak ada kejutan dari Tere Liye. Ending beberapa tokoh nyaris bisa ditebak. Namun lagi-lagi saya terpeleset. Novel ini, meski sekilas tidak memiliki konflik yang berat, yang menuntut penyelesaian. Rupanya memiliki bagian yang membuat saya tersentak. Ibarat film, selalu menjadi berkesan jika memiliki twist. Dan twist itu ada di novel ke-20 Tere Liye ini.
Untuk sampul buku, saya hanya ingin komentar, “Tumben, untuk sampul novel Rindu Tere Liye tidak mengadakan survey.” Biasanya Tere Liye melibatkan pembaca dalam pemilihan sampul (meski tidak semua buku). Dan menurut saya, sampul novel Rindu sudah cukup mewakili isi novelnya—meski bagi saya tidak begitu istimewa. Yang saya suka dari sampul novel Rindu adalah pemilihan warnanya. Meski begitu, sampul karya EMTE ini harus saya akui, berhasil membuat orang penasaran menyelami isi bukunya. Oya, saat menulis resensi ini, saya mendapat info di fanpage Tere Liye, novel Rindu sudah naik cetak 4 kali (di bulan pertama terbit). Nampaknya, buku ini memang persembahan spesial Tere Liye. Karya yang dirindukan di penghujung tahun 2014.

Akhirnya, novel Rindu ini menjadi bacaan dengan ide yang baru dan segar. Tema perjalanan haji di zaman lampau akan menyisakan kesan tersendiri. Selain itu, pembaca nampaknya akan dibuat jatuh cinta dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Dan yang tak kalah penting, ada sesuatu pemahaman baru yang terekam. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati kita.



MAU LIHAT PAK SOEKARNO LAGI DANSA, INI FOTONYA ----> 
FOTO SOEKARNO LAGI DANSA (1)  
FOTO PRESIDEN SOEKARNO LAGI DANSA SAMA ISTRI ASAL JEPANG: DEWI





Judul Buku: Rindu

Penulis: Tere Liye

Editor: Andriyanti

Penerbit: Republika Penerbit

Jumlah Halaman: 544 halaman

Tahun Terbit: Oktober 2014

Sinopsis by : Thuluw Muhlis Romdloni

Sumber : kompasiana.com

DILAN: DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 Bag 16-18


(Enam Belas)

Waktu bubar sekolah, Dilan nyusul dan bilang:
“Aku mau datang ke rumahmu. Malam ini”.
 
Hah?  Aku kaget.
 
“Jangan!”
 
“Kenapa?”
 
“Ayahku galak”
 
“Menggigit?”
 
“Serius”
 
“Aku tidak takut ayahmu”
 
“Jangan! Pokoknya jangan”
 
“Aku mau datang”, katanya, sambil berlalu.
 
“Jangan ih!”, tanpa sadar aku bicara agak teriak. Aku jadi merasa malu sambil kupandang ke banyak arah, berharap tak ada orang yang denger.

(Tujuh belas)

Aku belum ngantuk, masih terus ingin nulis. Suamiku masih juga belum pulang. Mick Jagger, bersama Rolling Stonesnya, sudah habis. Giliran Bob Dylan yang nyanyi. Sampai mana ceritanya?

Oh ya. Dilan datang! Benar-benar dia datang. Itu kira-kira pada pukul tujuh malam. Awalnya kudengar suara motor, masuk ke halaman rumahku. Aku yang sedang makan malam, langsung bisa yakin, tidak salah lagi, itu pasti Dilan.

Aku lekas masuk kamar bersama piring makan malamku dan bersama perasaan yang tidak karuan.

Biasanya ayahku jarang di rumah, sudah hampir tiga hari ini dia cuti. Malam itu, dia sedang ada di ruang tengah, sibuk membetulkan radio CB-nya. Ibuku juga di sana, sedang mencatat urusan kegiatan semacam Dharma Wanita, Bhayangkara atau apalah.

Jika bel rumah berbunyi, maka salah satu di antara merekalah yang akan membuka pintu. Menyambut Dilan, kalau benar tamu itu adalah Dilan. Ya, Tuhan, bisikku dalam hati. Kututup kepalaku dengan bantal sambil tiduran di kasur.

Entah siapa yang buka pintu, aku gak tahu. Pasti ada dialog di sana, tapi tidak bisa kudengar. Aku ingin tahu, Aku merasa akan lebih baik jika tetap diam di kamar. Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara motor itu, keluar dari halaman rumahku. Ya, jika itu Dilan, dia sudah pergi.

Dengan aneka macam pikiran yang memenuhi kepalaku, aku duduk di kursi belajarku, meneruskan makan malam sampai habis dan lalu keluar dari kamar untuk menyimpan piring makanku.

Selesai dari gosok gigi, pas aku mau kembali ke kamar, telepon rumahku berdering. Aku lebih dekat ke tempat telepon, sehingga aku yang ngangkat dan itu adalah telepon dari Dilan, buatku, untuk yang pertama kalinya.

Tidak usah ditanya bagaimana Dilan tahu nomor telepon rumahku. Kukira dia banyak akal.
 
“Hallo?”, kusapa yang nelepon
 
“Selamat malam”
 
“Malam”
 
“Bisa bicara dengan Milea?”
 
“Iya, saya”
 
“Oh. Aku Dilan”
 
“Hey”. Mendadak jantungku langsung deg-degan.
 
“Milea bisa bicara dengan aku?”
 
“Iya bisa”
 
“Tadi aku datang”
 
“Iya”
 
“Kau tahu?”
 
“Tahu”
 
“Kau tahu kenapa aku datang?”
 
“Kenapa?”
 
“Kalau aku gak datang, gara-gara kamu bilang ayahmu galak, berarti aku pecundang”
 
“Iya”
 
“Lebih baik aku datang. Kalau nanti dimarah, itu bagus, kamu akan kasihan ke aku”
 
“He he”.
 
“Kasihan gak?”
 
“Tadi dimarah?”
 
“Enggak”
 
“Syukurlah”
 
“Tadi, ayahmu bilang, kamu sudah tidur”
 
“Oh”
 
“Kenapa sekarang bisa ngomong? Kamu ngigau?”
 
“Iya”
 
“Ha ha ha ha ha”. Dilan ketawa

Sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Boro-boro ketawa, bicaraku juga sebisa mungkin kubikin singkat-singkat. Entah mengapa, aku merasa ga enak, kuatir ayah dan ibu dengar. Seolah saat itu aku merasa bahwa mereka akan marah kalau tahu itu telepon dari Dilan, meskipun belum tentu mereka akan begitu.
Selesai nerima telepon, aku langsung ke kamar lagi. Sebelumnya ayahku nanya, telepon dari siapa, aku jawab dari Beni. Dan di kamar, selain kupakai untuk menyelesaikan tugas PR, sebagian otakku kugunakan untuk memikirkan dialog terakhir dengan Dilan di telepon:
 
“Boleh aku meramal?”, Dilan nanya
 
“Iya”
 
“Iya apa?”
 
“Boleh”
 
“Aku ramal, nanti kamu akan menjadi pacarku!”
 
“He he he”
 
 “Percaya tidak?”
 
“Musyrik”
 
“Ha ha ha”
 
“He he he”
 
“Hey, Milea”
 
“Iya”
 
“Kau tahu kenapa aku tidak langsung jujur saja bilang ke kamu bahwa aku mencintaimu?”
 
“Enggak”
 
“Padahal kalau mau, aku bisa. Itu gampang”
 
“Terus? Kenapa?”
 
“Kalau langsung, gak seru. Terlalu biasa”
 
“He he he”
 
“Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah aku sedang mengucapkan selamat tidur, dari jauh. Kamu ga akan denger”
 
“He he he”

Di atas kasur, selagi mau tidur, aku dilanda kebimbangan, haruskah terus terang, bilang ke Dilan, bahwa aku sudah punya pacar? Iya, kayaknya harus. Biar sejak itu, Dilan akan berhenti mengejarku.
Biar Dilan tidak akan lagi membuat kejutan-kejutan, yang kalau aku harus jujur, sebetulnya aku juga suka. Seru! Tidak, kayaknya tidak. Enggak usah aku bilang. Biarin saja. Aku merasa, sejak ada Dilan di dalam hidupku, ah, susah kukatakan dengan kata-kata.

Atau haruskah aku bilang ke Beni, bahwa ada orang di Bandung, satu sekolah denganku, namanya Dilan, sedang berusaha mendekatiku? Kayaknya jangan, aku tahu Beni, jika kukatakan, justeru malah akan nambah masalah dari pada berusaha menyelesaikannya. Aduh, Beni, aku yakin kamu tidak akan bisa menolongku!

Lebih baik aku tidur. Di luar turun hujan. Kamu di mana sekarang, Dilan? Hati-hati kalau di jalan. Kututup mataku dengan bantal dan: “Selamat tidur juga, Dilan”

(Delapan belas)

Aku baru selesai dari kantin, bersama Nandan, Hadi dan Rani. Tak ada Dilan. Dia jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran, kalau memang benar dia sedang mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin menemuiku? Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung bi Eem?

Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku. Bicara denganku, setidaknya dengan itu, aku bisa tahu langsung darimu, benarkah kamu suka nge-ganja seperti yang dikatakan oleh Nandan dan Dito? Benarkah kamu suka minum-minuman keras, seperti yang dikatakan oleh Nandan, Erfan dan Rani? Benarkah kamu playboy, punya banyak pacar, seperti yang dikatakan oleh Nandan?
Aku tidak bermaksud mau ikut campur urusanmu, Dilan. Siapalah aku ini. Tetapi rasanya hampir setiap hari aku selalu mendapat informasi yang buruk tentangmu. Aku ingin tidak percaya.

Tetapi jika memang itu benar, ya sudah, aku jadi tahu siapa dirimu dan bagaimana harusnya aku bersikap kepadamu, itu pilihanku. Kamu bukan pacarku, apa urusanku memikirkan dirimu, tapi aku tidak tahu, Dilan, mengapa aku ingin tahu.

Ah, Tuhan! Kenapa aku jadi begini?

Monday, June 9, 2014

DILAN: DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 Bag 11-15

Gambaran Dilan dan Milea


                   Sambung lagi ceritanya, untuk lebih asyik dan lebih lengkapnya, beli langsung saja novelnya di toko-toko buku terkenal di kota anda
                                                              
                                                         (SEBELAS)
             
                   Itu hari selasa, ketika aku mendapat surat dari Dilan. Entah bagaimana Dilan bisa nitip suratnya ke Rani. Isi suratnya pendek:

            ”Pemberitahuan: Sejak sore kemaren, aku sudah mencintaimu – Dilan!”.
             
            Aku seperti terkesiap membacanya. Lalu dengan cepat, langsung kututup surat itu.
             
            Jadi malu sendiri rasanya, dan berharap Rani tidak sudah membacanya. Kayaknya belum, karena surat itu dimasukkan ke dalam amlop yang tertutup.
             
            Aku hanya kuatir orang-orang akan tahu apa isinya. Lalu dengan cepat kumasukkan ke dalam tas, seolah dengan itu bisa kujejalkan sampai masuk sedalam mungkin.
             
            Dia, menurutku, hari ini, harus bertanggungjawab, karena sudah berhasil mengganggu kosentrasi belajarku.
            
                                                    
                                                   (DUA BELAS)
             
            Di kantin, pada waktu istirahat, aku duduk satu meja dengan Nandan, Dito, Jenar dan Rani. Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang gak perlu. Mereka semuanya teman sekelas, kecuali Jenar, dia anak kelas 2 Sosial.
             
            Dilan pasti di sana, bersama kawan-kawannya, di warung bi Eem. Aku belum pernah makan di sana, selain cuma lewat setiap pergi dan saat pulang sekolah.
             
            Warung kecil, kira-kira 30 meter dari sekolah, di samping gereja Pantekosta. Huh! Aku juga tahu, kenapa kamu milih ke sana. Biar bisa merokok.
            
                                           
                                                   (TIGA BELAS)
             
           Aku mau cerita tentang yang lain yang bukan Dilan. Ini tentang Nandan. Nandan Hadi Prayitno. Kata Rani, Nandan naksir aku, tapi aku cuma senyum mendengarnya, karena soal itu sudah lama aku tahu.
           
           Aku bisa membaca bagaimana sikap dan perilaku Nandan kepadaku. Bagiku, semuanya, termasuk suka nelepon malam hari nanya-nanya soal PR, nraktir kami makan di kantin, berusaha membuatku ketawa dengan aneka macam lawakan, itu adalah modus, untuk mencari perhatianku.
          
          Aku setuju, kalau ada yang bilang Nandan baik. Dan, kalau aku boleh jujur, Nandan lebih tampan dari Dilan. Nandan juga humoris, jago basket, dan lain-lain, pokoknya Nandan adalah lelaki idaman tiap wanita.
        
          Nandan juga masih jomblo, masih belum punya pacar. Pernah sih dekat dengan Pila, anak kelas 2 Sosial, tapi ga tahu kenapa, belakangan hubungan mereka jadi renggang.
      
                                  
                                                 (EMPAT BELAS)
            
            Sumpah, aku terkejut, pas kulihat ada Dilan. Dia datang ke kantin bersama dua orang yang belum kutahu namanya. Entah bagaimana perasaanku saat itu, sangat sulit kuungkapkan. Aku hanya tahu aku menjadi salah tingkah.
           
             Dia mendatangi meja kami, dan menyapaku:
            “Hei, Milea!”
            “Hei, Dilan”
            “Cuma nyapa”
            Lalu dia pergi bersama kedua temannya, entah kemana, mungkin ke kelas, tapi sebelum pergi, dia bicara ke Nandan:
            “Eh, Dan, kamu tahu gak?”
            “Tahu apa?”
            “Aku mencintai Milea?”
            “He he he”. Nandan tersenyum sambil sekilas memandangku. Rani, Dito dan Jenar, semuanya ketawa. Mukaku pasti merah.
            “Tapi malu mau bilang”, kata Dilan lagi
            “Itu, sudah bilang? He he” Nandan ketawa kecil
            “Aku kan bilang ke kamu, bukan ke dia”
            “Dia denger kan?”, tanya Nandan
            “Mudah-mudahan”
             
              Dilan pergi. Bisa kubaca mata Nandan, kayaknya dia  merasa keganggu oleh kata-kata Dilan. Bisa jadi itu cuma tebakanku saja. Aku bukan ahli membaca bahasa tubuh. Cuma aku yakin, Nandan tidak suka dengan Dilan, sejak itu, sejak dia tahu Dilan menyukaiku. Mencintaiku.
              
                                
                                                  (LIMA BELAS)

            Setelah istirahat selesai, kami masuk lagi ke kelas untuk ikut pelajaran lainnya. Kamu tahu kemana Dilan? Dilan masuk ke kelasku, dan duduk di bangku sebelahku, membuat Rani jadi pindah ke kursi belakang yang memang kosong.
          
           Heran, kenapa tidak seorang pun yang berusaha ngusir Dilan? Nandan sebagai dirinya Ketua Murid, cuma bisa diam saja. Sejujurnya, aku sendiri merasa risih dengan adanya Dilan. Tapi mau gimana lagi.
         
          Dilan minta kertas, aku kasih. Di kertas itu, dia nulis:
       
         Informasi:
         Daftar orang-orang yang ingin jadi pacarmu: 

             1.       Nandan (Kelas 2 Biologi)
             2.       Pak Aslan (Guru Olah Raga)
             3.       Tobri (Kelas 3 Sosial)
             4.       Acil (Kelas 2 Fisika)
             5.       Dilan (Manusia)
      
          Aku senyum membacanya. Kemudian kulihat dia mencoret semua nama di daftar itu, kecuali nama dirinya.
            “Kenapa?”, kutanya
            “Semuanya akan gagal”, dia bilang begitu dengan berbisik.
            “Kecuali kamu?”
            “Iya. Doain”
    
            Kawan-kawanku sibuk dengan dirinya sendiri, seolah-olah tidak merasa terganggu oleh adanya Dilan, meskipun aku yakin mereka pasti gak suka. Kulihat Nandan, duduk terus di bangkunya, seperti orang bingung yang gak suka ada Dilan, tapi tidak tahu harus berbuat apa.
    
            Pak Atam, guru pelajaran Bahasa Indonesia, sudah datang masuk kelas, tapi Dilan tidak pergi. Tetap duduk. Edan ini orang, pikirku! Dilan benar-benar ikut pelajaran Pak Atam. Sambil berbisik, aku ngomong ke dia:
            ”Nanti kamu dialpain di kelasmu”
            “Ga apa-apa”, jawabnya, seraya tetap memandang ke depan, menyimak pelajaran, sampai akhirnya Pak Atam tahu ada seorang penyelundup:
            “Kenapa di sini?”. Pak Atam nanya. Kawan-kawan sekelas memandang semua ke arah Dilan. Muka mereka seperti puas karena akhirnya Pak Atam tahu dan menegurnya.
            “Salah masuk, Pak! Maaf!!”, jawab Dilan sambil beranjak dari duduknya dan pergi diiringi tatapan Pak Atam yang tidak respek kepadanya.

             Bersambung …..
BAGIAN 16-18

Wednesday, June 4, 2014

DILAN: DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990 Bag 6-10

                 Sambung lagi ceritanya, untuk lebih asyik dan lebih lengkapnya, beli langsung saja novelnya di toko-toko buku terkenal di kota anda


Gambaran sosok "Melia"


              
                                                                    (ENAM)
             
           Di hari minggu, waktu sedang nyuci sepatuku, aku mendengar bel rumah berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Aku teriak manggil si Bibi untuk meladeni tamu itu.
           
           Kebetulan, hari itu, di rumah, hanya ada aku dan si Bibi. Ayah, ibu dan adik bungsuku sedang pergi ke acara pernikahan saudara. Si Bibi bergegas nemui tamu dan lalu balik kembali menemuiku:
          
          “Tamu. Mau ke Lia”, kata si Bibi. Lia itu nama panggilanku di rumah
        
          Aku bersihkan tanganku dari busa dan langsung ke sana, nemui tamu itu. Ya tuhan, aku kaget, ternyata tamunya adalah dia: Sang Peramal. Aku senyum kepadanya yang tersenyum kepadaku. Berasa seperti sedang terjadi kontak batin, antara aku dengannya, membahas ramalannya yang benar-benar terjadi.
            “Hei” Kusapa dia.
            “Ada undangan”, dia langsung bilang begitu, seraya menyodorkan sebuah amplop sambil masih berdiri di situ, di depan pintu.
            “Undangan apa?”, kupandangi amplop itu.
            “Bacalah, tapi nanti”
            “Oke”
            “Bacalah, bahasa arabnya apa, Yan?” Dia nanya ke si Piyan yang datang bersamanya.
            “Apa ya?”, Piyan balik nanya
            “Oh! Iqra”, dia jawab pertanyaannya sendiri: “Iqra, Milea!”, katanya lagi.
            “He he he” Aku ketawa tapi sedikit. Entah mengapa, hanya bisa sesekali saja kupandang matanya.
            “Aku langsung ya?”, dia permisi untuk pergi
            “Kok tahu rumahku?”, kutanya
            “Aku juga akan tahu kapan ulangtahunmu”
           
            “He he”
           
            “Aku pergi dulu ya?”
           
            “Iya”
            “Assalamualaikum jangan?!”
            “Assalamualaikum”
            “Alaikumsalam”
            “He he he”
           
                                                              (TUJUH)
           
            Aduh, Tuhan, siapa sih dia itu! Maksudku, selain seorang Peramal, aku ingin tahu siapa dia itu sesungguhnya, dan mengapa tadi aku harus gugup di depannya?
           
            Aku masuk kamar dan senyum sendiri terutama karena memikirkan soal ramalannya yang benar. Tapi kenapa dia tidak membahasnya? Membahas soal ramalan? Atau sengaja? Entahlah. Aku baca surat undangan darinya sambil selonjoran di atas kasur.
           
             Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin tik di atas kertas HVS. Aku langsung bisa nebak, surat itu dia bikin sendiri: “Bismillahirahmannirahiim. Dengan Rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada: Hari senin, selasa, rabu, kamis, jumat dan sabtu”. Semua nama hari-hari itu, disertai dengan tanggal.
             
             Di dalam surat itu ada nama: Tuan Hamid Amidjaya. Itu Kepala sekolahku, sebagai orang yang turut mengundang. Di tiap sisi kertas, ada gambar hiasannya. Dibikin pake spidol. Gambarnya bagus. Entah bikinan siapa.
             
             Setelah kubaca, aku tak mengerti mengapa langsung merasa tak ingin pergi dari atas kasurku, benar-benar seperti orang yang sedang ditawan oleh rasa penasaran karena ingin tahu siapa dia sebenarnya.
              
            Sambil tiduran, aku jadi seperti orang yang sedang menerawang, memandang atap kamarku. Ketika ada terbayang wajahnya, langsung kupejamkan mataku, agar dengan begitu aku bisa mengusirnya, karena aku merasa itu gak perlu. Gak penting!
             
             Ah, sial. Itu hampir membuat aku lupa untuk melanjutkan tugas nyuci sepatu. Segera kusimpan surat itu, di dalam laci meja belajar, sambil senyum-senyum sendirian, dan langsung pergi ke kamar mandi, menemui sepatuku.
             
             Kucuci sepatu itu dengan pikiran yang penuh dengan dirinya, dan berusaha kulupakan dengan cara menyanyi. Tapi susah, tetap saja kepikiran meskipun sesekali. Aduh, hai, siapa sih dia itu?
             
            Setahuku dia satu sekolah denganku, tapi tidak sekelas denganku. Cuma itu. Itu saja. Tapi aku tidak tahu siapa namanya. Kenapa dia tidak memberitahu namanya di saat pertama jumpa itu? Haruskah aku yang nanya? Oh sori ya, gak mau!
             
             Kudengar telepon rumah berdering. Aku senang, karena itu dari Beni, pacarku di Jakarta. Dia satu sekolah denganku waktu masih di Jakarta, dan sekarang kami menjalin pacaran jarak jauh.
             
            Beniku keren, kau harus tahu itu. Dia tampan, meskipun tidak tampan-tampan amat, tapi cukup dan dia sangat baik. Ayahnya seorang artis film terkenal, yang kadang-kadang suka aku banggakan kepada ayah ibuku.
             
             Beni sangat menyayangiku. Aku juga begitu kepadanya. Meskipun sesekali suka bertengkar, tapi cuma masalah kecil, dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. Hampir setiap hari, Beni selalu menelponku untuk melepas rasa rindu dan hal lain sebagainya. 
             
                                                                    (DELAPAN)
         
             Hari senin, di tengah-tengah barisan siswa yang ikut upacara, aku berharap tidak ada satu pun orang tahu bahwa diam-diam mataku mencari dirinya, meskipun aku sendiri tidak tahu untuk apa juga kucari. Mungkin cuma ingin lihat saja. Tidak lebih dari itu.
         
             Sampai upacara sudah mau selesai, orang itu, Peramal itu, tak berhasil kutemukan. Di mana dia? Hatiku bertanya. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak tahu. Ah, ngapain juga kupikirin! Emang siapa dia?
           
            Seorang guru, dengan menggunakan speaker, tiba-tiba, memberi komando, agar seluruh siswa jangan dulu bubar dari barisan. Kupandang ke depan karena ingin tahu ada soal apa gerangan, oh saat itulah aku bisa melihat dirinya.
           
             Dia di sana, di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya. Berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP, setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera.
             
            Dia dan dua orang temannnya disebut Komunis oleh guru BP. Aku tidak mengerti apa sebabnya seseorang sampai disebut komunis hanya gara-gara tidak ikut upacara. Entahlah.
             
            Nun di sana, di tempatnya berdiri, aku yakin, dia sedang menyadari bahwa ada seseorang di tengah barisan peserta upacara, yang sedang memandangnya, yaitu diriku. Atau tidak?
             
           Tapi yang pasti, sebagaimana yang lain, aku sedang memandangnya dari jauh, dengan perasaan yang sulit kumengerti.
            “Dia lagi!”, bisik Revi seperti ngomong sendiri. Dia teman sekelas, yg berdiri di sampingku
            “Siapa dia?”, kutanya Revi
            “Dilan”
           
            “Oh”
            
              Dilan itu, adalah yang kemaren datang ke rumah, senyam-senyum depan pintu. Komunis itu, adalah yang pernah nyuruh si Piyan ngirim surat ke aku. Anak nakal itu, adalah yang kemaren sempat membuatku penasaran karena ingin tahu lebih jauh tentang dirinya.
           
            Mendadak, hari itu, aku bagai malu sendiri bahwa aku pernah ada sangkut paut dengan dirinya. Mendadak, aku bagai menyesal karena sudah merasa terhibur oleh surat undangannya.
           
           Sampai-sampai kalau misal ada orang yang nanya, apakah Milea kenal Dilan? Aku yakin, aku akan langsung pura-pura tidak tahu. Apakah Milea teman Dilan? Entah mengapa segera akan langsung kujawab: Bukan. Aku hanya mengenal Beni, pacarku! Beniku baik dan tidak nakal, malahan guru-guru banyak yang suka kepadanya walau entah karena apa.
          
           Kata Rani, di kelas, setelah upacara, Dilan itu anak kelas 2 Fisika 1 dan anggota gengmotor yang terkenal di Bandung. Jabatannya Panglima Tempur. Oh ya ya. Aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Oh dia ternyata!
         
          Aku betul-betul jadi takut. Dia pasti sangat nakal, dan juga mungkin jahat. Meskipun aku yakin, dia tidak seperti yang kuduga. Lagi pun kalau benar dia begitu, mengapa juga harus takut, toh siapa pun dirinya, ayahku seorang tentara, yang akan siap menembaknya jika harus.
       
           Pokoknya, mulai besok, aku harus waspada seandainya dia berusaha mendekati, meskipun tidak harus kasar kepadanya. Dan tidak perlu terlalu menanggapi apa pun yang ia lakukan padaku, jika hal itu adalah bagian dari usahanya untuk melakukan pendekatan.
      
           Kalau dia ingin jadi pacarku, katakanlah begitu, aku yakin dia akan minder setelah tahu siapa Beni. Dilan pasti akan mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai.
           
                                                            (SEMBILAN)
     
          Bubar dari sekolah, cuaca mendung, aku pulang bersama kawan-kawan. Ada Dilan yang menyusulku dengan motornya. Aku langsung bisa yakin dia pasti akan mengajak aku pulang bersamanya naik motor. Nyatanya tidak, padahal aku sudah menyiapkan berbagai alasan untuk bisa menolaknya.
      
           “Kamu pulang naik angkot?”
            Kujawab dengan anggukan. Entah mengapa, saat itu, aku seperti gak enak dilihat kawan-kawan sedang didekati oleh dia, si anak nakal.
            “Aku ikut….”
            “Ikut apa?”, tanyaku tanpa menoleh kepadanya, tapi bagian sudut mataku berusaha melihat ke arahnya.
            “Naik angkot”.
            “Gak usah”, jawabku sambil memandangnya sebentar
            “Kan angkot buat siapa aja”
            “Kamu kan naik motor?”
            “Nanti motorku dibawa kawan”
            “Eh?”
     
              Lalu dia pergi. Kutengok sebentar ke belakang, dia datang lagi dengan sedikit berlari. Aku tak ingin tahu disimpan di mana motornya. Itu bukan urusanku, termasuk kalau hilang.
       
              Di angkot, dia duduk di sampingku. Aku benar-benar jadi kikuk, dan juga mati gaya.
            “Ini hari pertama, aku duduk denganmu”
         
             Tidak kurespon, karena memang gak perlu. Kuambil buku, lalu kubaca. Mudah-mudahan bisa membantu mengalihkan pikiranku kepadanya. Mudah-mudahan bisa membantu membuat dia mengerti untuk jangan mengganggu orang yang sedang baca.
          
             Tapi dia berbisik, suaranya kudengar pelan sekali menyebut namaku:
            “Milea”
            Aku diam untuk tidak menanggapi.
            “Kamu cantik”, katanya lagi dengan suara yang pelan tanpa memandangku.
Heh? Aku kaget. Serius, hampir-hampir tak percaya dia akan bicara begitu. Aku bingung harus gimana dan berusaha memastikan bahwa kawan-kawanku di angkot, tidak mendengar apa yang dia katakan. Aku merasa seperti malu.
            “Makasih”, akhirnya kujawab sambil tetap baca buku, dengan intonasi yang datar, tanpa memandang dirinya. Dengan suara yang pelan bagai berbisik, kudengar dia bicara:
            “Tapi, aku belum mencintaimu…….Enggak tahu kalau sore”
Ih! Suaranya pelan, tapi rasanya seperti petir. Aku diam, tidak mau merespon omongannya
            “Tunggu aja”, katanya lagi.
Betul-betul, saat itu, rasanya ingin teriak, tepat di kupingnya: Apa sih kamu ini?! Tapi tidak kulakukan. Aku memilih diam dan bersikap berusaha tidak akrab dengannya. Habis itu, dia juga diam.
            “Aku ramal, kamu akan segera tahu namaku”.
            Udah tahuuu! Gak usah diramal-ramal. Udah tahu! Tapi kujawab:
            “Iya”
           
             Ketika sudah sampai, aku turun dari angkot, dan langsung kaget, karena dia juga turun. Aku nyaris merasa kuatir dia akan mampir ke rumahku. Jika benar, aku akan langsung melarangnya. Jangan sampai terjadi!
             
             Syukurnya tidak. Dia pamit pergi, dan lalu nyebrang jalan, untuk naik angkot lagi, menuju arah sekolah. Aku ramal, dia ke sana pasti mau mengambil motornya.
           
            Tadi, sebelum dia pergi, dia sempat bilang:
           
            “Kamu tahu, Milea, semua siswa itu sombong?”
            “Kenapa?”, tanyaku.
            “Siapa yang mau datang ke ruang BP, menemui Pak Suripto? Cuma aku, Milea!”
            “Ooh!”, aku senyum, tapi sedikit.
             
             Ketika dia pergi, muncul perasaan bersalah sudah bersikap judes kepadanya. Pastilah dia sedih. Pastilah dia kesal. Dan besok, mungkin, dia kapok.
             
             Sesampainya di rumah, si Bibi memberiku surat. Itu surat yang terbungkus dalam amplop warna ungu. Oh, surat dari Beni!
             
                                                        (SEPULUH)
         
               Kubaca surat Beni sambil terus kepikiran soal Dilan yang mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku. Apa salahnya dia, Milea? Mengapa hari ini kau begitu, padahal baru kemaren engkau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat undangan yang dia berikan padamu?
          
            Aku simpan surat Beni, surat yang penuh kata-kata mendayu berisi melulu soal cinta dan rindu itu. Heran, biasanya aku senang, entah mengapa, hari itu, aku merasa seperti sedang berubah di dalam menilainya: Ah, Beni kurang asik! Maksudku, mungkin aku merasa bosan dengan dia yang terlalu monoton!
          
            Si Bibi ngetuk pintu, manggil, untuk nyuruh aku makan. Aku keluar dari kamar dengan isi kepala yang mulai dikacaukan oleh pikiran tentang  omongan Dilan di angkot tadi:
           
            “Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja”.
          
             Kata-kata aneh, yang sudah membuatku tersenyum dan yang terus nempel di kepalaku sampai malam harinya. Di kamar, tiba-tiba ku ketawa, dan teriak dalam hati, seolah-olah hal itu kutujukan padanya: Mau cinta mau enggak, dengar ya, hai kau yang bernama Dilan: Terseraaaaaahhh! Itu urusanmu! Emang gua pikirin!?
           
               Setelah usai shalat isya, aku dapat telepon dari Beni. Dia bicara lama sekali. Atau sebentar? Tapi entah mengapa aku merasa itu sangat lama. Dan katanya, dia mau ke Bandung, nanti, minggu depan.
             
             “Kamu senang?”, Beni nanya apakah aku senang jika dia ke Bandung menemuiku? Kujawab:
            “Iya”

           Memang, harusnya aku senang, Beni. Oke, kalau begitu, baiklah, aku akan berusaha untuk senang.